Home > Technopreneuship, Tugas Individu > Contoh Industri Kreatif

Contoh Industri Kreatif

A. Profil salah satu perusahaan Kerajinan Kulit di Manding

Bagi sebagian besar masyarakat Yogyakarta tentu sudah tidak terlalu asing dengan nama Manding. Dusun tempat Pengrajin aneka Kerajinan Kulit ini terletak di Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Telah bertahun-tahun masyarakat di Manding menekuni usaha kerajinan kulit ini. Aneka Produk kerajinan berbahan dasar kulit hewan terutama kambing dihasilkan oleh tangan-tangan terampil dari Manding. Kerajinan kulit Manding tidak semata-mata menggunakan bahan kulit sebagai bahan kerajinan tetapi juga memadukan kulit dengan bahan baku lain seperti serat alam pandan, mendong, enceng gondok, agel dan lidi. Aneka Kerajinan Berbahan dasar kulit yang bisa didapatkan dari Manding antara Lain, Tas kulit, kipas, souvenir pernikahan, dompet, kap lampu, sepatu , gantungan kunci dan lain sebagainya. Berikut Beberapa contoh hasil kerajinan kulit dari Bantul. (http://galeriukm.web.id/)
Menurut Ami Suprapto, jumlah pengusaha Kerajinan aneka produk kulit manding sebenarnya cukup banyak, yakni sekitar 60 orang. Namun yang masih berproduksi dan bertahan hanya sekitar 20 orang. Hal ini terkait dengan berbagai kendala yang mereka hadapi, antara lain mahalnya harga kulitsebaga bahan baku, upah tenaga kerja yang semakin tinggi, dan persaingan pasar yang semakin ketat. (http://indonesia-handicraft.com/news/)
Salah satu pengusaha yang masih bertahan adalah Siti Galwati. Beliau lahir di Bantul, 18 Agustus 1954. Nama perusahaan yang beliau kelola adalah SEAGA. Saat ini, seaga juga tidak hanya memproduksi Kerajinan kulit tetapi juga kerajinan alam. Omset yang diperoleh Rata-rata Rp. 1.200.000.000,- per tahun-nya.

Penghargaan dan sertifikat:

1. Juara lomba manajemen tingkat nasional tahun 2000
2. Masuk 50 besar sebagai urutan ke-14 dengan kategori UKM yang terbaik dalam hal inovasi, pemasaran, produksi dari Enterprise 50
3. Sebagai supplier yang mempunyai item terbanyak dari PT. Surya Pelem Sewu tahun 2002
4. Program pelatihan yang pernah diikuti
5. Pelatihan yang diadakan oleh BRI, Diperindag dan Koperasi Kabupaten Bantul

Lembaga Pendamping:
SMEDC UGM dan Diperindag
Konsumen
Lokasi Desa Manding cukup strategis karena di jalur utama Yogyakarta – Parangtritis. Bila berwisata ke Manding, produk kerajinan kulitnya cukup berkualitas dan beberapa pengrajin telah mengekspor produknya ke luar negeri. (http://mycityblogging.com/) .
Begitu pula dengan perusahaan SEAGA yang juga telah mengekspor produknya. Negara-negara konsumer adalah AS, Eropa, jepang, Taiwan, dan Malaysia. Sistem pembayaran untuk luar negeri biasanya menggunakan LC (letter of credit0 atau TT (Term of Short). Permintaan kerajinan SEAGA tersebar diberbagai wilayah baik lokal maupun internasional. Produk yang dihasilkan SEAGA dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia terutama Bali, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta serta beberapa kota besar lainnya.
Selain itu, produk kerajinan juga diekspor ke beberapa negara seperti Amerika, Australia, Selandia Baru, Meksiko, Spanyol, Perancis, Oman, Belanda, Inggris, Singapura, Thailand, dan beberapa negara lainnya. Ekspor dilakukan dengan bantuan trader lokal maupun langsung ke buyer dari luar negeri.
B. Sejarah Perusahaan
Profil Seaga adalah industri kerajinan kulit yang dirintis sejak tahun 1971, pada waktu itu usaha ini masih merupakan usaha rumah tangga yang dipimpin oleh Ny. Siti Galwati yang sekaligus sebagai pemilik. Usaha ini mampu bertahan hingga sekarang dengan kemajuan berbagai bidang. Usaha kulit ini pada mulanya berlokasi di Dusun Gabusan, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1978 usaha ini pindah ke desa Manding RT.08/II, Sabdodadi, Bantul, Yogyakarta.
Pada awal berdiri usaha ini bergerak di bidang modiste dan kulit. Karyawan yang bekerja waktu itu tidak sebanyak sekarang, mereka berjumlah 2 sampai 4 orang. Seiring dengan kemajuan usaha, jumlah karyawan semakin bertambah hingga mencapai angka 45 orang karyawan tetap. Usaha kulit sempat mengalami kemacetan pada tahun 1980-an karena mahalnya harga kulit dan pasar cenderung sepi. Ibu Siti Galwati tetap mempertahankan usaha modistenya sampai tahun 1993.
Pada tahun 1995 usaha kulit kembali bangkit dan giliran usaha modiste yang dihentikan. Ditahun yang sama, kepemimpinan perusahaan yang semula masih dikendalikan langsuh oleh ibu Siti Galwati, selanjutnya dibantu oleh anak menantunya, yaitu Bapak Rusli Efendi.
Setelah Bapak Rusli Effendi masuk dalam usaha ini, usaha yang sebelumnya berkonsentrasi pada kerajinan kulit mulai melakukan diversifikasi dan deferensiasi produk dengan mengembangkan produk-produk baru dari bahan alami seperti: bagor, eceng gondok, pandan, mendong, seagras, agel, bungkus chiki, rotan, bambu, batu, serat goni, pelepah pisang, dan masih banyak lagi. Sehingga mulai tahun 1996 usaha ini sudah memiliki lebih 150 jenis produk dari bahan dan desain yang bervariasi. Selain itu juga diadakan gebrakan pengembangan pasar dengan menggandeng para trader lokal, nasional maupun internasional untuk membantu pemasaran produk yang dihasilkan oleh SEAGA.
Seiring dengan kemajuan dan kebutuhan organisasi, pada tahun 1999 usaha ini mendapatkan ijin usaha dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dati II Bantul dengan nomor 451/B/TD/IV/1999 atas nama Ny. Siti Galwati dengan nama SEAGA.
Pada tahun 200, SEAGA mengikuti interprise 50 tingkat nasionaldan berhasil memperoleh posisi atau urutan ke 47. SEAGA mengalami kemajuan pesat, terutama produk dari bahan enceng gondok, sehingga SEAGA menambah tenaga kerja sebanyak 267 orang pada tahun 2001 yang sebelumnya pada tahun 2000 sebanyak 178 orang sehingga total pekerja mencapai 445 orang. Banyaknya jumlah karyawan tersebut menjadi alasan SEAGA mendirikan anak perusahaan yang berkonsentrasi pada bidang enceng gondok, pewarnaan pandan, mendong, agel, dan seagras dengan nama “CV HAMPARAN SEAGA”. Selain itu, anak perusahaan yang lain bergerak dibidang pemotongan karton. Sementara itu SEAGA berfungsi sebagai Head Office, showroom, dan pengerjaan barang- barang dari kulit, pandan natural, mendong natural, dan atau dari semua bahan yang bersifat natural.
Selama perjalanan sejarah SEAGA , tahun 1997 adalah tahun kejayaan bagi industri kerajinan ini. Namun perusahaan tetap bisa mempertahankan omset pertahun pada angka rata-rata 1,2 milyar sampai sekarang.
Tanggal 27 mei 2006 disaat Bantul , DIY dan Jateng dilanda gempa; SEAGA tak luput juga mengalami kerugian. Karyawan yang seluruhnya warga Bantul memaksa SEAGA menghentikan produksi beberapa waktu karena terkait dengan bahan baku, karyawan, dan tempat usaha. Namun dengan optimisme bisa keluar dari masalah ini, SEAGA tak mau terpuruk terlalu lama. Ibu Siti Galwati sebagai pemilik usaha dibantu anak dan menantunyasegera berfikir mencari jalan keluar.
Usaha pertama yang dilakukan adalah mengambil kembali produk-produk yang masih bisa diselamatkan dari rumah-rumah suplier. Kemudian mencari karyawan baru untuk mengerjakan pesanan sebelumnya. Sedikit demi sedikit karyawan mulai banyak dan akhirnya usaha bisa berjalan dengan normal kembali.

VISI: Menjadi perusahaan kecil, menengah yang mampu menyediakan kerajinan yang bernilai estetika tinggi dengan berorientasi pada kulit dan bahan-bahan alami sehingga mampu bersaing dalam pasar Internasional.
MISI:
- Menyediakan lapangan pekerjaan nagi masyarakat Desa disekitar lokasi usaha sehingga mampu meningkatkan taraf hidup warga.
- Mengembangkan potensi Sumber Daya Alam dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia untuk keperluan manusia.
- Menjadi industri kecil, menengah yang mampu bersaing di pasar Internasional dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produk sehingga berkesinambungan.
- Membantu pemerintah dalam melakukan pembangunan untuk mewujudkan manusia Indonesia yang adil dan merata.

C. Poduk dan pembuatannya
Produk yang dihasilkan oleh SEAGA adalah barang-barang kerajianan antara lain: Tempat tissue, Megazine Holder, Tempat Korek, Frame/ Figura, Tempat Pakaian Kotor, Sandal, Bunga, Bandul, Dompet, Tas, Sepatu, Lilin, Tempat pensil, Karpet, Bantal, Round Container, Tikar, Alas Makan, Box, dan lain-lain.
Produk-produk tersebut dibuat dari salah satu atau kombinasi bahan-bahan sebagai berikut:
Kulit, Mendong, Seagras, Bagor, Pandang, Tali bagor, Batu, Pelepah pisang, Serabut kelapa, Enceng Gondok, Rotan, Keramik, Agel, Bambu, Lilin, Chiki, Dll
Pada Pembuatan Produk, Produk yang dihasilkan oleh SEAGA hampir 80% merupakan produk-produk hand made, hanya beberapa pekerjaan yang menggunakan alat bantu mesin seperti untuk pembuatan produk yang ditenun. Oleh karenanya SEAGA melibatkan banyak tenaga kerja terampil dan ahli dalam proses produksi dan didukung dengan peralatan mesin yang membantu proses produksi.
Bila kurang berminat dengan hasil kerajinan yang di pajang,wisatawan bisa memesannya sesuai dengan slera,baik model maupun bahan bakunya.”paling bagus terbuat dari kullit domba tetapi harganya lebih mahal.Misalnya untuk jaket 100% kulit.harganya berkisar Rp 750-800 ribu.”mengapa dipilih kulit domba?Hal ini dikarenakan bahan kulit domba pori-porinya kecil dan berstektur lembut sehingga setelah dicuci dan diperaskulit tetap lentur dan halus.Kulit domba juga sangat awet sehingga barang yang anda pakai bisa tahan lama,misal produk sepatu,setelah bertahun-tahun paling cuma solnya saja yang di ganti.(http://www.beriklan.com )
D. Analisis Filsafat Seni
Pencarian yang sungguih-sungguh tentang hal-hal yang membedakan antar akarya seni dan bukan seni yaitu merupakan aktifitas filosofis (Sudaryanto, 2008: 23). Suzanne K. Langer menyimpulkan bahwa ekspresi, kreasi dan bentuk hidup adalah tiga faktor yang menentukan kriteria sesuatu dikatakan seni atau bukan seni (Sudaryanto, 2008: 30)
Karya seni bukan dari sisi bentuk karya seni itu melainkan lebih menekankan emosi yang dibangkitkan oleh karya seni bagi penangkapnya…. emosi efektif sebagai tanggapan terhadap karya seni itu bersifat subyektif. Namun demikian dapat dikatakan bahwa emosi itu muncul karena berhadapan dengan bentuk bermakna atau bentuk yang memiliki kualitas tertentu (nilai artistik). Nilai artistik merupakan nilai yang khas dari karya seni, menimbulkan emosi estetik yang merupakan emosi khas yang ditimbulkan oleh karya seni. (Sudaryanto, 2008: 24-25)

Dalam kaitannya dengan kerajinan kulit dan kerajinan alami, maka dapat dicirikan apakah kerajinan tersebut dapat digolongkan seni atau non seni bila dlihat dari emosi yang dapat dibangkitkan oleh produk tersebut bagi penangkapnya.
Seni bersangkut paut dengan perasaan manusia. Apa yang diungkapkan oleh seorang seniman adalah perasaannya. Demikian pula apa yang digetarkan dalam diri seorang pengamat adalah emosinya. Oleh karena itu, penilaian terhadap karya seni berdasarkan oleh perasaan estetis dan ukuran nilai estetis.
Bentuk seni merupakan citra batiniah seorang seniman, artinya bentuk seni itu mewakili suasana bathiniah penciptanya, gagasannya, perasaannya, maupun imajinasinya. (Sudaryanto, 2008: 27). Nilai intrinsik adalah nilai yang diusahakan manusia bagi nilai itu sendiri dan bukan sebagai sarana untuk mencapai nilai yang lain. (Sudaryanto, 2008: 29). jadi, produk tersebut bisa dikatakan karya seni tergantung dari citra batiniah seniman pembuatnya.
Bentuk ditentukan oleh fungsi, bukan berarti fungsi praktis yang menentukan bentuk, melainkan suatu prinsip estetis. (Sudaryanto, 2008: 30)
Ciri dari suatu aktifitas kreatif adalah adanya pembaharuan atau adanya penanganan yang tidak sekedar berupa pengulangan apa yang telah ada. (Sudaryanto, 2008: 31)
Seni yang sesungguhnya senantiasa kreatif, selalu menghasilkan sesuatu yang baru. Seni sebagai suatu rangkaian kegiatan manusia selalu menciptakan suatu realitas yang baru, sesuatu apapun yang tadinya belum ada atau belum pernah muncul dalam gagasan seseorang. Seorang seniman harus dapat menciptakan karyanya dari bahan yang biasa menjadi hasil karya seni yang luar biasa. Pada kerajinan kulit dan kerajinan alam , aktifitas kreatif tersebut dapat dilihat dari produk yang dihasilkan seperti frame foto yang dibingkai dengan bagor, tas dari eceng gondok, dan sebagainya.
Fungsi Seni
Terkait fungsi seni, maka analisis terhadap produk-produk kerajinan kulit dan kerajinan alam dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Fungsi Individual Seni
a. Fungsi individual seni untuk memenuhi kebutuhan rohani
Setia individu pasti memiliki emosi dan tuntutan emosi itu perlu disalurkan supaya tidak terjadi menjadi beban bagi dirinya. Bagi seorang seniman emosi itu dapat disalurkan melalui kegiatan seni. Karena seni adalah suatu kegiatan yang melibatkan ekspresi yang mendalam, dan mengekspresikan perasaan merupakan kegiatan rohaniah. (Anakciremai, 2008) Kerajinan kulit maupun kerajinan natural pun dapat berfungsi untuk menyalurkan emosi bagi pengrajin yang bersangkutan dengan membuat bentuk produk sesuai emosi yang terbangun dalam dirinya.
Sedangkan bagi individu – individu lain yang bukan seniman seni dapat berfungsi pula untuk memenuhi kebutuhan rohani yaitu dengan cara menikmati (mengekspresikan) hasil karya seni (Anakciremai, 2008), misalnya mengunjungi showroom hasil-hasil kerajinan kulit dan kerajinan alam den mengamati berbagai produk yang ditampilkan. Kegiatan – kegiatan seperti itu dapat menimbulkan rasa keindahan atau kesenangan batin secara individu.
b. Fungsi individual seni untuk memenuhi kebutuhan jasmani
Selain karya seni murni, juga banyak karya seni pakai yang diciptakan oleh para seniman atau pengrajin, seperti pakaian Tempat tissue, Megazine Holder, Tempat Korek, Frame/ Figura, Tempat Pakaian Kotor, Sandal, Bunga, Bandul, Dompet, Tas, Sepatu, Lilin, Tempat pensil, Karpet, Bantal, Round Container, Tikar, Alas Makan, Box, dan lain-lain. Secara individual karya seni tersebut dapat berfungsi fisik, karena hasilnya dapat kita pergunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehari – hari
2. Fungsi Sosial Seni
Suatu karya seni memiliki nilai sosial apabila:
a. Dapat mempengaruhi tingkah laku atau tindakan masyarakat secara kolektif
b. Diciptakan untuk dilihatdan digunakan dalam suasana umum
c. Mencetuskan atau melukiskan aspek – aspek eksistensi yang bersifat sosial atau kolektif sebagai kebalikan dari sesuatu pengalaman individual. (Anakciremai, 2008)
Dalam kehidupan sehari – hari dapat kita jumpai karya seni diterapkan diberbagai bidang, yaitu bidang rekreasi, komunikasi, pendidikan dan bidang agama
a. Fungsi sosial seni dalam bidang pendidikan
Peranan seni dalam bidang pendidikan yaitu sebagai alat peraga untuk memperlancar proses belajar supaya anak didik lebih mudah dan mengerti menerimanya. Misalnya kegiatan kuliah lapangan yang dilaksanakan oleh mahasiswa peserta matakuliah filsafat seni ini.

Sumber : http://dz4ki.blogspot.com/2010/10/unsur-unsur-seni-pada-hasil-kerajinan.html

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: